materi statistika pertemuan 1

A.PENGERTIAN STATISTIKA DAN RUMUS

Pengertian statistik adalah ilmu yang mempelajari cara pengumpulan, pengelolaan, penyajian, dan analisis data termasuk cara pengambilan kesimpulan dengan memperhitungkan unsur ketidakpastian (uncertain) berdasarkan konsep probabilitas. Definisi lain statistik adalah kumpulan data dalam bentuk angka maupun bukan angka disusun dalam bentuk daftar (tabel) dan atau diagram.

Berdasarkan tahapan dan tujuan analisisnya:
  • Statistika deskriptif:
    • Statistika deskriptif berkaitan dengan penerapan metode statistik mengenai pengumpulan, pengolahan, dan penyajian suatu gugus data sehingga bisa memberikan informasi yang berguna.
    • Statistika yang menggunakan data pada suatu kelompok untuk menjelaskan atau menarik kesimpulan mengenai kelompok itu saja
    • Menjelaskan/menggambarkan berbagai karakteristik data melalui:
      • Ukuran Lokasi (Central Tendency): mode, mean, median, dll
      • Ukuran Variabilitas/Dispersi: varians, deviasi standar, range, dll
      • Ukuran Bentuk: skewness, kurtosis, plot boks
      • Penyajian tabel dan grafik misalnya
        • Distribusi Frekuensi
        • Histogram, Pie chart, Box-Plot dsb
  • Statistika Inferensial:
    • Statistika inferensi (inference statistics) merupakan cabang ilmu statistik yang berkaitan dengan penerapan metode‐metode statistik untuk menaksir dan/atau menguji karakteristik populasi yang dihipotesiskan berdasarkan data sampel.
    • Statistika yang menggunakan data dari suatu sampel untuk menarik kesimpulan mengenai populasi dari mana sampel tersebut diambil
    • Membuat berbagai inferensi (penarikan kesimpulan) terhadap sekumpulan data yang berasal dari suatu sampel. Tindakan inferensi tersebut seperti melakukan perkiraan, peramalan, pengambilan keputusan dan sebagainya. 
B.jenis jenis pengambilan sampel 
a) Simple random sampling
Menurut Kerlinger (2006:188), simple random sampling adalah metode penarikan dari sebuah populasi atau semesta dengan cara tertentu sehingga setiap anggota populasi atau semesta tadi memiliki peluang yang sama untuk terpilih atau terambil.

Menurut Sugiyono (2001:57) dinyatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi  dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Margono (2004:126) menyatakan bahwa  simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan  sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi tidak terlalu besar.  Misal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program  S1 (unit sampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak  150 orang dari populasi  tersebut, digunakan teknik  ini,  baik dengan cara undian, ordinal, maupun tabel bilangan random. Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini.

AMP HTML
Gambar 1. Teknik Simpel Random Sampling (Sugiyono, 2001: 58)

b) Proportionate stratified random sampling
Margono (2004: 126) menyatakan bahwa stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berstrata. Menurut  Sugiyono (2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Misalnya suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Populasi berjumlah 100 orang diketahui bahwa 25 orang berpendidikan SMA, 15 orang diploma, 30 orang S1, 15 orang S2 dan 15 orang S3. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut dan diambil secara proporsional.

c) Disproportionate stratified random sampling
Sugiyono (2001: 59) menyatakan bahwa teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU dan SMP.

d) Area (cluster) sampling (sampling menurut daerah)
Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Menurut Margono (2004: 127), teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu atau cluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten.

Indonesia memiliki 34 propinsi dan akan menggunakan 10 propinsi. Pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Contoh tersebut dikemukakan oleh Sugiyono sedangkan contoh lainnya dikemukakan oleh Margono (2004: 127). Ia mencotohkan bila penelitian dilakukan terhadap populasi pelajar SMU di suatu kota. Untuk random tidak dilakukan langsung pada semua pelajar-pelajar tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.

Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara sampling juga. Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini.

AMP HTML
Gambar 2. Teknik Cluster Random Sampling (Sugiyono, 2001: 59)

2) Nonprobability sampling

Non Probability sampling adalah sebuah teknik sampling yang tidak memperhatikan banyak variabel dalam penarikan sampel. Sampel-sampel dari Nonprobability Sampling juga disebut sebagai subjek penelitian dimana hasil dari uji yang dilakukan pada sampling tidak memiliki hubungan dengan populasi. Tujuan penggunaan teknik sampling ini lebih banyak melekat pada materi yang diujikan sedangkan pada random sampling atau probability Sampling, tujuan penelitian melekat pada nilai dari materi pada populasi yang diujikan.

a) Sampling sistematis
Sugiyono (2001:60) menyatakan bahwa sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil  saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu, yang diambil sebagai sampel adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.

b) Quota sampling
Menurut Sugiyono (2001: 60) menyatakan bahwa  sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Menurut Margono (2004: 127) dalam  teknik  ini  jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quorum tertentu terhadap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah kuota terpenuhi, pengumpulan data dihentikan. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100 dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.

c) Sampling aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel  berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2001: 60). Menurut Margono (2004: 27) menyatakan bahwa dalam teknik ini pengambilan sampel tidak ditetapkan lebih dahulu. Peneliti langsung mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui. Misalnya penelitian tentang pendapat umum mengenai pemilu dengan mempergunakan setiap warga  negara yang telah dewasa sebagai unit sampling. Peneliti mengumpulkan data langsung dari setiap orang dewasa yang dijumpainya, sampai jumlah yang diharapkan terpenuhi.

d) Purposive sampling
Sugiyono (2001: 61) menyatakan bahwa sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan  pertimbangan tertentu. Menurut Margono (2004:128),  pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling  didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah  diketahui sebelumnya, dengan kata lain unit sampel yang  dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang  diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Misalnya, akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai maka sampel yang dipilih adalah orang yang memenuhi kriteria-kriteria kedisiplinan pegawai.

e) Sampling jenuh
Menurut Sugiyono (2001:61) sampling jenuh adalah  teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi  digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila  jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah  lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

f) Snowball sampling
(Sugiyono, 2001: 61), Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel  yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sampel begitu seterusnya, sehingga jumlah  sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding semakin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan purposive dan snowball sampling. Teknik sampel ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

AMP HTML


Pembagian Data Statistik
Data statistik dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, diantaranya adalah:

1.    Menurut sifatnya
a.     Data Kontinu Yaitu data statistik yang angka-angkanya merupakan deretan angka yang sambung menyambung yang bisa menggunakan angka pecahan. Misalnya data statistik berat badan (dalam Kg): 50 – 50,1 – 50,2- 50,3 – 50,4 – 50,5 dst
b.    Data Diskrit, Yaitu data statistik yang tidak mungkin berbentuk pecahan. Misalnya data statistik jumlah anggota keluarga (dalam satuan orang): 1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 dst.

2.    Menurut Sumbernya
a.     Data Internal, yaitu data statistik yang menggambarkan keadaan keadaan dalam suatu organisasi. Misalnya Suatu Universitas yang mempunyai data internal tentang dosen, jumlah mahasiswa, data lulusan dsb.
b.    Data Eksternal, yaitu data yang menggambarkan keadaan / kegiatan di luar suatu organisasi. Misalnya Universitas Cibinong ingin menentukan berapa mahasiswa baru yang akan diterima pada tahun 2012/2013. Maka dibutuhkan data eksternal yang meliputi data lulusan SLTA tahun 2012, data keadaan Universitas yang lain dsb.

3.    Menurut cara menyusunya
a.     Data Nominal, yaitu data statistik yang cara menyusun angkanya didasarkan atas penggolongan / klasifikasi tertentu. Misalnya Data statistik tentang jumlah siswa MAN I Cibinong tahun 2000/2001 ditinjau dari tingkat kelas dan jenis kelamin:
Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah
L
P
I
II
III
30
23
25
20
27
35
50
50
60
Jumlah
78
82
160
Angka 30, 20, 23, 27, 25, dan 35 adalah data nominal, karena angka tersebut disusun berdasarkan golongan, baik menurut tingkatan kelas maupun jenis kelamin.
b.    Data Ordinal, yaitu data statistik yang cara penyusunanya berdasarkan urutan kedudukan / rangking. Misalnya Ada 5 orang finalis lomba pidato, dan skor yang diberikan dewan juri sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:
No Urut
No Undian
Nama
Nilai
Rangking
1
2
3
4
5
120
105
095
020
070
Andi
Ali
Aji
Ami
Ani
305
310
530
406
520
V
IV
I
III
II

c.     Data Interval, yaitu data statitik dimana terdapat jarak yang sama diantara hal-hal yang sedang diselidiki. Misalnya pada tabel di atas angka I, II, III, IV, V disebut data ordinal, sedangkan 530, 520, 406, 310, dan 305 disebut data interval.

4.    Menurut bentuk angkanya
a.     Data Tunggal, yaitu data statistik yang angka-angkanya tidak dikelompok-kelompokan. Misalnya data tentang nilai mata kuliah statistik pendidikan dari 20 mahasiswa adalah: 40 50 65 70 41 45 60 65 55 60 50 55 45 55 60 65 55 60 41 55

Cara menyusun data tersebut adalah:
Nilai
Frekuensi
40
41
45
50
55
60
65
70
1
2
2
2
5
4
3
1
N = 20
b.    Data Kelompok, yaitu data statistik yang tiap-tiap unitnya terdiri dari sekelompok angka. Misalnya Data tentang nilai mata kuliah statistik dari 40 mahasiswa sebagai berikut:
Nilai
Frekuensi
52 - 58
2
59 - 65
6
66 - 72
7
73 - 79
20
80 - 86
8
87 - 93
4
94 - 100
3
Jumlah
50

5.    Menurut cara memperolehnya
a.     Data Primer, yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu organisasi atau perseorangan langsung dari obyeknya. Misalnya Data tentang jumlah siswa MAN I Cibinong yang diperoleh dari bagian tata usaha.
b.    Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah pihak lain, dan biasanya sudah dalam bentuk publikasi-publikasi. Misalnya Data tentang jumlah siswa MAN I Cibinong yang diperoleh dari surat kabar.

6.    Menurut waktu pengumpulanya
a.     Data Seketika, yaitu statistik yang mencerminkan keadaan- keadaan pada suatu waktu saja. Misalnya Jumlah guru SMU I tahun ajaran 2000/2001 (hanya satu tahun saja).
b.    Data urutan waktu, yaitu data statistik yang mencerminkan keadaan atau perkembangan mengenai suatu hal dari waktu ke waktu. Misalnya Jumlah siswa SMU I mulai tahun 1995/1996 sampai dengan 2000/2001.

sumber bacaan :
https://www.eurekapendidikan.com/2015/09/defenisi-sampling-dan-teknik-sampling.html
http://colectioninfo.blogspot.com/2013/11/pengertian-dan-pembagian-macam-macam.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kemiringan distribusi data